020820131344Pengalaman pertamaku mudik (menuju udik = pulang kampung) jauh adalah saat idul fitri tahun ini (2013), biasanya saya pulang kampung ke rumah ortu di Karawang akan tetapi tahun ini bersama dengan istri dan anakku, kita mudik ke kampung istriku di Melati, Sleman – Yogyakarta menggunakan Kereta Api. Tanggal 02 Agustus 2013 pagi jam 5 kita sudah menunggu mobil travel Slamet-trans di Klari arah Karawang-Bandung, perjalanan ke Bandung sekitar 1.5 Jam dengan harga tiket Rp. 60.000 karena menjelang Idul Fitri, adapun hari biasa Rp. 55.000. Kami turun depan BTC dan dilanjutkan dengan naik taksi Blue-Bird menuju stasiun Bandung.  Sekitar jam 9 pagi kami berangkat ke Yogyakarta menggunakan kereta api Lodaya Pagi Lebaran, kereta ini adalah kereta tambahan selama libur Idul Fitri. Harga tiket untuk eksekutif yaitu Rp. 300.000/orang, anak kecil atau bayi yang tidak mendapatkan tempat duduk pun harus membayar 10% dari harga tiket. Selama perjalanan dari Bandung ke Yogyakarta kita disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah, menyusuri gunung dan pesawahan, sayapun tidak melewatkan untuk mengambil gambar dengan kamera hp seadanya (gambar disamping). Adapun untuk fasilitas kereta api masih dikatakan lumayan nyaman, dengan reclining seat serta toilet didepan dan belakang gerbong disertai shower dan wastafel yang airnya cukup banyak. Walaupun kursinya banyak yang dimodifikasi karena sudah tidak ada lagi mini table-nya serta beberapa bantalan kakinya sudah rusak. Tapi saya bersyukur sekali bisa mudik tanpa mengalami kemacetan, apalagi saat itu Salman sedang sakit sehingga selama di kereta hanya diam lesu dan tidur serta beberapa kali pup sehingga harus ganti pampers sampai 3x.

IMG_20130808_073804_0Kereta berjalan terlalu lambat sehingga dari jadwal yang seharusnya jam 16.10 tetapi kita sampai 17.30, sesampai di stasiun tugu Yogyakarta sayapun segera mencari tempat makan untuk berbuka puasa, akan tetapi berhubung Salman rewel akhirnya kita mencari taksi untuk segera pulang dan makan dirumah. Idul Fitri di Yogyakarta sungguh berbeda dengan dirumah saya di Karawang, disana tidak semua orang membuat ketupat dan opor ayam, bahkan istriku pun tidak pernah membuat ketupat selama lebaran, akhirnya saya dan istripun mencoba membuat ketupat dan opor ayam, kita berbelanja di pasar Cebongan dekat dengan rumah, disana pasarnya lebih bersih dari pasar di Karawang sehingga Salman pun senang dibawa kesana, yang pasti tidak tercium bau sampah dan tidak berceceran sampah dimana-mana. Menjelang hari raya idul fitri bertepatan dengan hari Kamis, 08 Agustus 2013 kita beres-beres rumah serta mempersiapkan banyak kue karena disana jika idul fitri tiba maka keluarga dan tetangga akan berkunjung kerumah untuk minta sungkem ke nenek (Mbah Somo), ibu dari mertuaku. Tahun ini juga hampir semua golongan dan berbagai organisasi muslim melaksanakan hari raya idul fitri bersamaan, baik muhammadiyah maupun NU. Basis muhammadiyah terbesar di Indonesia memang di Yogyakarta sehingga selama dirumah mertuaku, suasana muhammadiyah terasa sekali, yang sangat berbeda dengan di Karawang yang umumnya masyarakat berbasis NU. Sholat tarawih disemua masjid dan mushola dilakukan 8 raka’at dengan 4-4 serta dilanjutkan 3 raka’at sholat witir, setelah sholat isya dan sebelum sholat tarawih biasanya ada kultum dalam bahasa jawa, sehingga saya hanya mengiyakan saja dan menerka-nerka artinya… (kata istriku ‘sok tahu’… he..he..he). Saya sedikit-sedikit belajar bahasa jawa seperti ‘ojo lali’ – ‘sampun dahar dereng’ – ‘wedang’ – ‘sugeng riyadi’, dll (lainnya lali aku… he3x).

IMG_20130808_072744_0  070820131355

070820131358Pagi hari saat idul fitri, kami melaksanakan sholat ied di lapangan getas, tetapi ada yang berbeda dengan biasa saya di Karawang, disini setelah khutbah ied jama’ah hanya bersalam-salaman dengan kanan kiri mereka, tidak membuat rantai panjang untuk bersalam-salaman dengan semua jama’ah yang sholat dilapangan. Selama saya di Karawang, biasanya kita menghabiskan waktu sampai 30 menit untuk bersalam-salaman. Setelah sampai dirumah, hampir setiap 15-30 menit ada tamu yang datang untuk bersalam-salaman dan minta sungkem ke nenek, baik dari keluarga maupun tetangga sekampung. Sehingga selama dua hari kita pun cukup direpotkan dengan banyaknya tamu yang datang, tetapi menyenangkan dan banyak silaturahim dengan semua orang, kata istriku jika kita tidak pulang biasanya tamu berdatangan sampai 1 minggu… (waaahhh). Tidak lupa pula saya dan keluarga istri pun keliling kampung mengunjung rumah-rumah untuk minta sungkem ke nenek-kakek tetangga atau keluarga lainnya. Tidak lupa setiap ketemu orang ucapkan ‘Sugeng riyadi’ artinya selamat hari raya – begitulah kebiasaan di Yogyakarta.

040820131350

Hari Sabtu pagi tanggal 10 Agustus 2013, kita pun pulang ke Karawang dengan membawa banyak oleh-oleh, pengalaman dan kenangan selama di Yogyakarta. Hadiah bapak mertuaku untuk salman saat di Yogyakarta berupa sepeda roda tiga tidak bisa kita bawa pulang berhubung bawaanku pun sudah banyak. Pada saat perjalanan pulang ini, Salman sudah sehat, sehingga selama dikereta dia inginnya diajak main dan jalan-jalan, setelah cape barulah dia istirahat (lihat gambar menempati tempat dudukku). Berhubung kereta delay hingga 1 jam lebih akhirnya kita sampai di Bandung telat yang seharusnya jam 17.18 tetapi sampai jam 19.30 sehingga kita tidak bisa naik travel, akhirnya temanku Yusron menjemputku di stasiun bersama istrinya dan menolong kami mencarikan penginapan yang dekat dengan stasiun. Berhubung dipusat kota, jadi harga penginapan dan hotel sekitarnya cukup mahal kisaran 250-600rb. Kamipun jalan-jalan disekitar hotel untuk mencari makan malam, harga wedang jahe disana jauh lebih mahal dibandingkan di Yogyakarta yaitu Rp. 8.000/gelas begitupun kita beli tongseng sapi seharga Rp. 20.000 di pinggiran jalan (pedagang kaki lima). Hari minggu pagi, kita pulang ke Karawang menggunakan bis Primajasa dengan harga tiket Rp. 50.000. Alhamdulillah jalanan masih lancar sehingga siangnya kita sudah sampai dirumah Klari, dan kita langsung siap-siap untuk mudik kedua, pulang ke rumah ortuku di Jatisari menggunakan motor.

100820131374Alhamdulillah Idul Fitri tahun ini banyak pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan, begitupun banyak pelajaran yang bisa diambil. Semoga kita bisa selalu bersilaturahim dengan siapapun selama kita masih hidup, bukankah Rasulullah bersabda:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, bangkitlah rahim (hubungan kekeluargaan) berkata: Ini adalah tempat bagi orang berlindung (kepada-Mu) dengan tidak memutuskan tali silaturahim. Allah menjawab: Ya. Apakah kamu senang kalau Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu? Ia berkata: Tentu saja. Allah berfirman: Itulah milikmu. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bacalah ayat berikut ini kalau kalian mau: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan matanya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci. No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4634

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Rahim (tali persaudaraan) itu digantungkan pada arsy, ia berkata: Barang siapa yang menyambungku (berbuat baik kepada kerabat), maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan aku, maka Allah pun akan memutuskannya. 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4635

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4636

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahim). 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4638

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4641

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Karawang, Agustus 2013. [Salman 14 months old]

100820131368   100820131370

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s