Assalamu’alaikum…Welcome…歡迎光臨

Welcome to my blog, here I want to share about my acitivites and all of my interest in the Islamic studies, education, science, and engineering. I hope you can get the benefit from my blog.

Selamat datang di blog saya, disini saya ingin berbagi informasi tentang kejadian-kejadian yang saya alami dan semoga bisa diambil manfaat bagi teman-teman semua. Selain itu, blog ini merupakan wadah untuk menumpahkan seluruh minat saya baik itu dibidang ilmu-ilmu Islam, pendidikan, science, dan engineering.

ENHANCE YOUR SKILL BY THE BEST METHODS

ありがとうございます [謝謝]

Even Angels Ask – AL-QURAN

Bahkan Malaikatpun Bertanya

Memantapkan Iman Dengan Berfikir Kritis

[dikutip dari buku Jeffrey Lang: Even angels Ask]

quranSaya yakin bahwa Barat modern telah mengalami kehilangan kepercayan luar biasa. Kepercayaan pada pemerintah, nilai-nilai nasional, pendidikan, pergaulan dengan sesama manusia, kitab suci, agama, dan kepada Tuhan benar-benar sudah berkurang ̶malah kehilangan tampaknya ̶dalam pergumulan meraih kemajuan materi. Kehilangan ini telah meninggalkan kehampaan besar akan makna dan tujuan dalam hidup dan melahirkan banyak individu yang sangat tidak berkomitmen pada system pemikiran apa pun dan yang ingin mengetahui dan mendengarkan berbagai perspektif. Dari banyak pilihan ideologi dan agama, tampaknya Islam menarik jauh lebih banyak orang seperti itu ketimbang yang ditunjukkan oleh data statistiknya. Barangkali ini disebabkan oleh perhatian media yang berlebihan pada Islam, kedatangan sejumlah besar imigran dari masyarakat-masyarakat muslim, dan semakin meningkatnya interaksi antara negara-negara Barat dengan Timur Tengah dewasa ini. Sudah barang tentu, semua faktor ini membangkitkan minat Barat pada Islam.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, para mualaf mengemukakan banyak alasan dalam memilih Islam dan menggambarkan banyak ragam jalan menuju agama ini. Apa pun yang semula mendorong minat mereka atau menarik mereka untuk kemudian memilih menjadi muslim, para pemeluk baru ini selalu mengeluh tentang rasa frustasi hebat yang harus mereka tanggung sewaktu mereka berjuang untuk menyesuaikan diri dengan komunitas agama baru mereka. Pertanyaan paling penting yang harus kita telaah dan kaji berkenaan dengan para mualaf Barat ini bukanlah bagaimana mereka memeluk Islam, melainkan, mengapa banyak dari para mualaf itu tetap saja setia kepada Islam? Jawaban yang diperoleh atas pertanyaan adalah: Alquran.

Sesungguhnya, seluruh pemeluk baru Islam yang setia menisbatkan keimanan mereka pada keyakinan teguh kepada Alquran bahwa Alquran, secara keseluruhan, adalah betul-betul wahyu dari Allah. Mereka menunjuk pada ciri-ciri tertentu Alquran untuk mendukung keyakinan ini, tetapi biasanya ciri-ciri ini diketahui setelah keyakinan tentang kitab suci ini sudah berkembang. Secara khas, tidak ada aspek Alquran yang bisa dijelaskan atau diuraikan dengan mudah oleh para seorang mualaf sebagai penyebab keimanannya kepada Alquran. Orang sering sekali menemukan, setelah mengadakan telaah dan kajian, bahwa keyakinan ini didasarkan bukan hanya pada pengkajian objektif seorang mualaf atas kitab suci kaum muslim ini, melainkan lebih pada pengalamannya bersama kitab suci itu atau, bisa dikatakan, pada perbincanagn dengan Alquran. Mereka menuturkan saat-saat ketika Alquran tampak memberikan respons pada kondisi emosional dan psikologis mereka atau bahkan pada reaksi mereka pada ayat-ayat tertentu, seakan-akan kitab itu sedang diturunkan kepada mereka sendiri, langsung, halaman demi halaman, dengan setiap surah berikutnya yang mengantisipasi bagaimana surah sebelumnya bakal memengaruhi diri mereka. Mereka merasa tenggelam dalam, dan asyik dengan, dialog yang sesungguhnya dengan kitab suci itu, suatu dialog yang terjadi pada tataran wujud yang paling dalam, paling sejati, dan paling suci, di mana berlangsung komunikasi tentang sifat-sifat Ilahi, dan berpadu pula rahmat, kasih saying, kebaikan, pengetahuan, cinta ̶yang Ilahi dan manusiawi, yang sempurna dan tak sempurna, yang tak terbatas dan yang terbatas, yang mencipta dan dicipta ̶dari Allah dan manusia.

Sebagaimana diketahui oleh banyak mualaf, orang tidak harus menjadi seorang muslim untuk merasakan kekuatan intrinsik Alquran ini, karena banyak dari mereka memilih Islam sesudah dan karena mengalami saat- saat seperti ini. Juga, ada banyak sarjana Islam nonmuslim menuturkan hal ini. Seorang ahli bahasa Arab dari Inggris, Arthur J, Arberry, mengenang bagaimana Alquran membantunya melewati masa-masa sulit dalam hidupnya, ia menegaskan bahwa mendengarkan Alquran yang dilantunkan dalam bahasa Arab, baginya bagaikan mendengarkan detak jantungnya sendiri. Fredrick Denny, seorang penulis nonmuslim, mengenang “pengalaman sangat menggelisahkan” yang kadang-kadang dialami seseorang ketika sedang membaca Alquran, ketika sang pembaca mulai merasakan “suatu kehadiran gaib yang terkadang menakutkan”. Alih-alih membaca Alquran, sang pembaca justru merasa bahwa Alquran sesungguhnya “membaca” sang pembaca itu!

Akan tetapi, tidak setiap pembaca Alquran menimbulkan pengalaman semacam itu. Kaum muslim meyakini bahwa pengalaman seperti itu memerlukan kondisi pikiran dan jiwa tertentu, yakni kerendahan hati dan keikhlasan, kesediaan dan kesiapan. Mereka mengatakan bahwa jika  pembaca sadar akan ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan, jika ia siap melihat dirinya seperti apa adanya, jika ia mau membuang banyak bayang-bayang palsu yang dibuatnya sendiri dan juga untuk dirinya, jika ia mengetahui realitas “tidak ada daya atau kekuatan melainkan bersama Allah” maka ia siap, denga rahmat Allah, ditransformasikan oleh kitab suci ini.

Setiap generasi kaum muslim merasakan bahwa Alquran sesuai secara ideal dengan pandangan mental zaman mereka. Berbagai artikel dan buku-buku yang diterbitkan baru-baru ini oleh para mualaf Barat menunjukkan bahwa mereka bukanlah kekecualian. Saya tidak dapat menjelaskan sepenuhnya mengapa generasi muslim masa lalu merasa demikian, atau mengapa kaum muslim di bagian dunia lain sekarang ini memiliki persepsi ini, tetapi saya akan berusaha berbagi pandangan seorang mualaf Barat tentang Alquran.

Sebagaimana ditunjukkan dalam bab sebelumnya, ketika seorang pembaca Barat pertama kali membuka Alquran, ia segera mendapati dirinya berhadapan, secara dramatis, dengan salah satu persoalan besar yang telah menyebabkan begitu banyak orang di zaman modern meragukan eksistensi Tuhan; sebab Alquran menuturkan para malaikat yang bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau menciptakan makhluk yang akan menumpahkan darah dan menyebarkan kerusakan di muka bumi?” (Q. 2:30). Kemudian, Alquran mulai menjelaskan, tetapi hanya dengan memberi jawaban sekadarnya untuk menangkap dan menahan perhatian pembacanya. Jika pembaca ingin memperoleh lebih banyak petunjuk, maka ia harus terus membacanya.

Sesudah membaca tentang Adam, yang dikisahkan di dalam Alquran berbeda dalam hal-hal pokok dari kisah serupa Bibel, pembaca Barat bertanya-tanya di mana, tepatnya, Islam menempatkan dirinya dalam hubungannya dengan tradisi Yahudi-Kristen? Alquran meletakkan hal ini dalam perspektif, pertama dengan kisah tentang Bani Israil (Q. 2:40-86) dan kemudian dengan bahasan tentang sikap dan keyakinan Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan Kristen). Lalu ini pun diikuti dengan sebuah kisah tentang pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il yang menghubungkan Islam dengan bapak dari keluarga besar tiga agama (Q. 2:122-141). Alquran mengabarkan kepada kita bahwa Islam adalah pemurnian dari agama suci Ibrahim (Q. 2:142-167).

Sang pembaca tentu saja mengarahkan perhatiannya pada masalah-masalah yang lebih praktis: Bagaimana dengan praktik-praktik kaum muslim yang banyak kita dengar dalam berita: hukum-hukum tentang makanan, puasa, jihad, haji, status wanita dalam Islam? Masalah-masalah ini dibahas kemudian (Q. 2:168-283). Disisipkan di sepanjang paparan-paparan ini hal yang mengingatkan ihwal eksistensi dan keesaan Allah, tanda-tanda hikmah, rahmat dan kekuaasaan Allah, serta hajat sangat besar manusia untuk kembali kepada-Nya. Alquran akan menanamkan segenap kebenaran hakiki ini dalam benak pembaca terus-menerus dan berulang-ulang sambil berusaha memasuki relung batin, menjangkau jiwanya, dan menyadarkannya pada realitas yang dengannya ia hidup dan bernafas.

Surah kedua berakhir dengan sebuah do’a, yang diajarkannya kepada sang pembaca. Do’a itu mengingatkan dirinya bahwa Allah hanya mengungkapkan petunjuk-Nya bukan untuk membebani manusia, melainkan untuk membantu manusia. Kemudian, do’a itu memerintahkannya untuk memohon kepada Tuhan agar membantunya dalam mengatasi berbagai kesulitannya dan kembali kepada ampunan, rahmat dan perlindungan-Nya yang tidak terbatas. Surah ketiga dibuka dengan sebuah jawaban atas permohonan ini: Satu-satunya harapan dan tempat berlindung kita hanyalah pada:

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia–Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri Sendiri. Dia menurunkan al-kitab (Alquran) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. (Q. 3:2-3).

Ketika pembaca menyelesaikan surah al-Baqarah (surah kedua), ia telah memperoleh pengetahuan ringkas tentang Islam. Dan dalam 113 surah selebihnya, Alquran mengembangkan, menegaskan, dan mengelaborasi lebih lanjut tema-tema yang diperkenalkan dalam surah al-Baqarah. Sebagaimana disebutkan dalam bab pertama, pembaca mendapati tema-tema itu saling berkaitan di sepanjang teks, karena Alquran tidak mebiarkan pembacanya memandang tema-tema itu berdiri sendiri dan terlepas satu sama lain, tetapi justru menginginkan pembacanya melihat kesalingberkaitan itu. Sekalipun demikian, setiap surah selebihnya akan menekankan, sebagian besar, satu atau dua tema pokok. Surah ketiga, al ‘Imran, memaparkan sejarah agama umat manusia, dengan rujukan khusus kepada kaum Ahli Kitab, serta mengingatkan kaum muslim akan tugas mereka untuk memerangi tirani dan ketidakadilan. Surah keempat, al’Nisa’, kembali kepada topik tentang hak-hak wanita dan berbagai kewajiban keluarga. Surah kelima, al-Ma’idah berkenaan terutama dengan agama Yahudi dan Kristen serta, lagi-lagi menegaskan kerusakan agama-agama sebelumnya, yang ajaran-ajaran murninya kemudian dikembalikan dan disempurnakan dengan datangnya Islam.

Bila kita telusuri Alquran lebih jauh, surah-surahnya berangsur-angsur memendek, dan tekanan serta gayanya pun berubah. Dalam surah-surah di bagian tengah, kita menemukan lebih sedikit aturan dan regulasi, karena tekanan utamanya telah bergeser pada berbagai tamsil dan kisah-kisah para nabi di masa lalu, berbagai rujukan yang lebih sering dan lebih dramatis pada tanda-tanda di alam semesta berupa hikmah dan kemurahan Allah, serta semakin banyak tekanan dititik beratkan pada hubungan manusia dengan, dan kembalinya manusia kepada, Allah. Di samping itu, gaya sastra Alquran, yang hanya bisa benar-benar diapresiasi dalam bahasa Arab, menjadi semakin bersemangat ketika terus membacanya.

Sementara kita mendekati akhir Alquran, wacana itu memfokuskan hampir sepenuhnya pada pembaca dan hubungannya dengan Tuhan dan pada hubungan organis antara amal-perbuatan seseorang dan keadaannya di akhirat kelak. Surah-surah ini terus-menerus menyuarakan tema-tema berikut ini dalam nada penuh semangat: surga dan neraka, hari kiamat dan hari pengadilan, dunia sekarang ini dan hari akhirat, hancurnya alam semesta dan kembalinya kita kepada Tuhan Yang Mahabesar –semuanya berpadu pada sebuah klimaks penyingkapan.

Alquran membimbing pembacanya dari segenap perhatiannya yang dangkal dan praktis, melalui dunia para nabi, leluhur mereka, berbagai keajaiban dan tanda-tanda, menuju momen puncak itu ketika akan tampak baginya bahwa hanya ada dirinya sendiri yang berdiri di hadapan Tuhan dan Penciptanya. Banyak orang menempuh perjalanan ini merasakan adanya kedahsyatan dan kekuatan pertemuan itu begitu mereka tiba pada akhir Alquran. Keraguan diri, ketakutan, dan tekanan menyelimuti diri mereka sewaktu mereka mendekati pilihan yang secara pasti dituntut oleh Alquran. Banyak orang takut pada reaksi balik-masyarakat, mempertanyakan rohani mereka sendiri, kemampuan mereka untuk mengubah kehidupan mereka dan tunduk pada tuntunan-tuntunan Islam, atau merasa bahwa mereka sudah sangat terlambat–bahwa mereka merasa berada jauh di luar batas di mana Tuhan dapat mencintai mereka. Namun, dalam seluruh kandungan Alquran, Tuhan meyakinkan pembacanya terus-menerus bahwa ia tidak boleh menyerah kepada jenis keraguan dan keputus-asaan demikian.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q. 2:186)

… Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah, pada sisi-Nya pahala yang baik. (Q. 3:195)

… Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q. 39:53)

Berkat nikmat Tuhanmu, engkau (Muhammad) sama sekali bukan orang gila. (Q. 68:2)

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?… (Q. 93: 1-8)

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, … (Q 94: 1-6)

Sewaktu pilihan akhir mendekati dan menyelimuti pembacanya, Alquran menyuguhkan di hadapan pembaca kalimat-kalimat yang sangat diinginkan dan dibutuhkan oleh jiwanya dan perlu diucapkannya, dengan memerintahkannya:

Katakanlah, “Dia-lah Allah Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Q. 112: 1-2)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh!” (Q. 113: 1)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia!” (Q.114: 1)

Seolah-olah Tuhan, melalui Alquran, mendesak pambacanya: “Ucapkan saja kalimat itu, niscaya Aku akan datang kepadamu; katakana saja kalimat itu, niscaya Aku akan melindungimu dan menyenangkanmu; kembalilah saja kepada-Ku, niscaya Aku akan mencintaimu dan hatimu akhirnya akan merasakan kedamaian.”

Banyak di antara kita, setelah membaca Alquran, berdiri termangu di atas jembatan kebimbangan, yang merentang di antara keimanan dan pengingkaran, impian material kita harapan dan di hari akhirat, nafsu duniawi kita dan kebutuhan spiritual kita. Juga terhampar malam-malam tanpa tidur, langkah-langkah yang tampaknya tiada akhir, bayangan reaksi menakutkan dari keluarga dan sahabat-sahabat, ayat-ayat kitab suci yang terngiang dalam benak kita, dan, kekhawatiran tentang karier dan masa depan kita, dan yang paling dahsyat, kehampaan karena berpisah dengan Zat yang menyentuh diri kita dan berbicara kepada kita melalui wakyu-Nya. Dari orang-orang yang merasakan kepedihan ini, sebagian dari mereka berpaling dan melarikan diri, tidak pernah kembali. Namun, ada juga mereka yang menghentikan perlawanan dan menghambur lari dengan tangan terbuka menuju pelukan kasih-sayang Tuhan mereka, yang menundukkan diri mereka pada segenap kebutuhan terdalam mereka dan terjun dalam samudera kebaikan dan cinta.

Mereka yang memilih Islam segera menemukan bahwa, selama sisa hidup mereka, mereka harus mengahadapi pertanyaan berikut ini secara berulang-ulang, “Bagaimana Anda bias menjadi seorang muslim?” Mereka akan merumuskan beragam jawaban parsial pada kesempatan yang berbeda sesuai dengan konteks tempat pertanyaan itu diajukan. Akan tetapi, kita semua yang membuat keputusan demikian mengerti bahwa bahkan kita pun tidak bisa sepenuhnya memahaminya, karena hikmah dan perbuatan-perbuatan Allah sering begitu lembut dan tidak dapat diukur. Mungkin pernyataan yang paling mudah dan paling benar yang bisa kita sampaikan adalah: Pada satu momen istimewa dalam hidup kita–̶suatu momen yang tidak pernah dapat kita ramalkan selagi kita masih kanak-kanak ̶̶dalam pengetahuan dan kebaikan-Nya yang tidak terbatas, Allah melimpahkan rahmatnya kepada kita. Mungkin, Dia melihat dalam diri kita suatu kebutuhan yang begitu besar, kepedihan yang teramat dalam , atau kehampaan yang begitu luas. Dan mungkin juga Dia melihat kesiapan dalam diri kita. Betapapun Dia membuat hal itu terjadi, kepada-Nya-lah kita panjatkan syukur abadi. Sesungguhnya, segala puji dan syukur hanyalah milik Allah.

====================================================================================================================
Dr. Jeffrey Lang

jeffrey langSejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:

Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu.

Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”

“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS:  Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”

“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawan pertanyaan kamu.”

Sumber: Republika.co.id

Mudik…. Yeeeeeeee…

020820131344Pengalaman pertamaku mudik (menuju udik = pulang kampung) jauh adalah saat idul fitri tahun ini (2013), biasanya saya pulang kampung ke rumah ortu di Karawang akan tetapi tahun ini bersama dengan istri dan anakku, kita mudik ke kampung istriku di Melati, Sleman – Yogyakarta menggunakan Kereta Api. Tanggal 02 Agustus 2013 pagi jam 5 kita sudah menunggu mobil travel Slamet-trans di Klari arah Karawang-Bandung, perjalanan ke Bandung sekitar 1.5 Jam dengan harga tiket Rp. 60.000 karena menjelang Idul Fitri, adapun hari biasa Rp. 55.000. Kami turun depan BTC dan dilanjutkan dengan naik taksi Blue-Bird menuju stasiun Bandung.  Sekitar jam 9 pagi kami berangkat ke Yogyakarta menggunakan kereta api Lodaya Pagi Lebaran, kereta ini adalah kereta tambahan selama libur Idul Fitri. Harga tiket untuk eksekutif yaitu Rp. 300.000/orang, anak kecil atau bayi yang tidak mendapatkan tempat duduk pun harus membayar 10% dari harga tiket. Selama perjalanan dari Bandung ke Yogyakarta kita disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah, menyusuri gunung dan pesawahan, sayapun tidak melewatkan untuk mengambil gambar dengan kamera hp seadanya (gambar disamping). Adapun untuk fasilitas kereta api masih dikatakan lumayan nyaman, dengan reclining seat serta toilet didepan dan belakang gerbong disertai shower dan wastafel yang airnya cukup banyak. Walaupun kursinya banyak yang dimodifikasi karena sudah tidak ada lagi mini table-nya serta beberapa bantalan kakinya sudah rusak. Tapi saya bersyukur sekali bisa mudik tanpa mengalami kemacetan, apalagi saat itu Salman sedang sakit sehingga selama di kereta hanya diam lesu dan tidur serta beberapa kali pup sehingga harus ganti pampers sampai 3x.

IMG_20130808_073804_0Kereta berjalan terlalu lambat sehingga dari jadwal yang seharusnya jam 16.10 tetapi kita sampai 17.30, sesampai di stasiun tugu Yogyakarta sayapun segera mencari tempat makan untuk berbuka puasa, akan tetapi berhubung Salman rewel akhirnya kita mencari taksi untuk segera pulang dan makan dirumah. Idul Fitri di Yogyakarta sungguh berbeda dengan dirumah saya di Karawang, disana tidak semua orang membuat ketupat dan opor ayam, bahkan istriku pun tidak pernah membuat ketupat selama lebaran, akhirnya saya dan istripun mencoba membuat ketupat dan opor ayam, kita berbelanja di pasar Cebongan dekat dengan rumah, disana pasarnya lebih bersih dari pasar di Karawang sehingga Salman pun senang dibawa kesana, yang pasti tidak tercium bau sampah dan tidak berceceran sampah dimana-mana. Menjelang hari raya idul fitri bertepatan dengan hari Kamis, 08 Agustus 2013 kita beres-beres rumah serta mempersiapkan banyak kue karena disana jika idul fitri tiba maka keluarga dan tetangga akan berkunjung kerumah untuk minta sungkem ke nenek (Mbah Somo), ibu dari mertuaku. Tahun ini juga hampir semua golongan dan berbagai organisasi muslim melaksanakan hari raya idul fitri bersamaan, baik muhammadiyah maupun NU. Basis muhammadiyah terbesar di Indonesia memang di Yogyakarta sehingga selama dirumah mertuaku, suasana muhammadiyah terasa sekali, yang sangat berbeda dengan di Karawang yang umumnya masyarakat berbasis NU. Sholat tarawih disemua masjid dan mushola dilakukan 8 raka’at dengan 4-4 serta dilanjutkan 3 raka’at sholat witir, setelah sholat isya dan sebelum sholat tarawih biasanya ada kultum dalam bahasa jawa, sehingga saya hanya mengiyakan saja dan menerka-nerka artinya… (kata istriku ‘sok tahu’… he..he..he). Saya sedikit-sedikit belajar bahasa jawa seperti ‘ojo lali’ – ‘sampun dahar dereng’ – ‘wedang’ – ‘sugeng riyadi’, dll (lainnya lali aku… he3x).

IMG_20130808_072744_0  070820131355

070820131358Pagi hari saat idul fitri, kami melaksanakan sholat ied di lapangan getas, tetapi ada yang berbeda dengan biasa saya di Karawang, disini setelah khutbah ied jama’ah hanya bersalam-salaman dengan kanan kiri mereka, tidak membuat rantai panjang untuk bersalam-salaman dengan semua jama’ah yang sholat dilapangan. Selama saya di Karawang, biasanya kita menghabiskan waktu sampai 30 menit untuk bersalam-salaman. Setelah sampai dirumah, hampir setiap 15-30 menit ada tamu yang datang untuk bersalam-salaman dan minta sungkem ke nenek, baik dari keluarga maupun tetangga sekampung. Sehingga selama dua hari kita pun cukup direpotkan dengan banyaknya tamu yang datang, tetapi menyenangkan dan banyak silaturahim dengan semua orang, kata istriku jika kita tidak pulang biasanya tamu berdatangan sampai 1 minggu… (waaahhh). Tidak lupa pula saya dan keluarga istri pun keliling kampung mengunjung rumah-rumah untuk minta sungkem ke nenek-kakek tetangga atau keluarga lainnya. Tidak lupa setiap ketemu orang ucapkan ‘Sugeng riyadi’ artinya selamat hari raya – begitulah kebiasaan di Yogyakarta.

040820131350

Hari Sabtu pagi tanggal 10 Agustus 2013, kita pun pulang ke Karawang dengan membawa banyak oleh-oleh, pengalaman dan kenangan selama di Yogyakarta. Hadiah bapak mertuaku untuk salman saat di Yogyakarta berupa sepeda roda tiga tidak bisa kita bawa pulang berhubung bawaanku pun sudah banyak. Pada saat perjalanan pulang ini, Salman sudah sehat, sehingga selama dikereta dia inginnya diajak main dan jalan-jalan, setelah cape barulah dia istirahat (lihat gambar menempati tempat dudukku). Berhubung kereta delay hingga 1 jam lebih akhirnya kita sampai di Bandung telat yang seharusnya jam 17.18 tetapi sampai jam 19.30 sehingga kita tidak bisa naik travel, akhirnya temanku Yusron menjemputku di stasiun bersama istrinya dan menolong kami mencarikan penginapan yang dekat dengan stasiun. Berhubung dipusat kota, jadi harga penginapan dan hotel sekitarnya cukup mahal kisaran 250-600rb. Kamipun jalan-jalan disekitar hotel untuk mencari makan malam, harga wedang jahe disana jauh lebih mahal dibandingkan di Yogyakarta yaitu Rp. 8.000/gelas begitupun kita beli tongseng sapi seharga Rp. 20.000 di pinggiran jalan (pedagang kaki lima). Hari minggu pagi, kita pulang ke Karawang menggunakan bis Primajasa dengan harga tiket Rp. 50.000. Alhamdulillah jalanan masih lancar sehingga siangnya kita sudah sampai dirumah Klari, dan kita langsung siap-siap untuk mudik kedua, pulang ke rumah ortuku di Jatisari menggunakan motor.

100820131374Alhamdulillah Idul Fitri tahun ini banyak pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan, begitupun banyak pelajaran yang bisa diambil. Semoga kita bisa selalu bersilaturahim dengan siapapun selama kita masih hidup, bukankah Rasulullah bersabda:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, bangkitlah rahim (hubungan kekeluargaan) berkata: Ini adalah tempat bagi orang berlindung (kepada-Mu) dengan tidak memutuskan tali silaturahim. Allah menjawab: Ya. Apakah kamu senang kalau Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu? Ia berkata: Tentu saja. Allah berfirman: Itulah milikmu. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bacalah ayat berikut ini kalau kalian mau: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan matanya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci. No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4634

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Rahim (tali persaudaraan) itu digantungkan pada arsy, ia berkata: Barang siapa yang menyambungku (berbuat baik kepada kerabat), maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan aku, maka Allah pun akan memutuskannya. 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4635

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4636

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahim). 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4638

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. 
No. Hadis dalam kitab Sahih Muslim: 4641

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Karawang, Agustus 2013. [Salman 14 months old]

100820131368   100820131370